Penelitian Dosen STAI Terpadu Yogyakarta Ungkap Strategi Efektif Peningkatan Minat Baca di Rumah Literasi Desa Sidoharjo

Ponorogo, 11 September 2024 – Hanifah Noviandari, M.Pd., Dosen STAI Terpadu Yogyakarta, melaksanakan penelitian berjudul “Strategi Peningkatan Minat Baca Warga Masyarakat di Rumah Literasi Desa Sidoharjo, Jambon, Ponorogo” yang didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI tahun anggaran 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan strategi efektif dalam membangun budaya literasi masyarakat desa berbasis nilai-nilai keislaman. Dalam prosesnya, Hanifah mewawancarai sejumlah pihak yang berperan penting, yaitu Kepala Desa Bapak Sarmin, Perangkat Desa Bapak Katimun, Pengelola Rumah Baca Ibu Suyanti dan Ibu Anjar, serta warga masyarakat Ibu Kinanthi dan Ibu Suyansih.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Literasi Desa Sidoharjo telah berhasil meningkatkan minat baca masyarakat melalui penerapan strategi berbasis teori 5P dari Henry Mintzberg yaitu Plan (Perencanaan), Ploy (taktik), Pattern (pola), Position (posisi), dan Perspective (perspektif). Perencanaan yang matang menjadi dasar pelaksanaan taktik berbagai kegiatan literasi, seperti lomba dongeng keagamaan dan kampanye literasi melalui media sosial. Kebiasaan membaca dilakukan secara konsisten, sehingga membentuk pola perilaku literasi yang melekat di kalangan warga, terutama dalam hal membaca literatur keagamaan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga memperkuat nilai-nilai religius dan sosial masyarakat desa.

Penelitian ini juga menyoroti posisi strategis Rumah Literasi sebagai pusat pembelajaran nonformal yang mengakomodasi nilai-nilai lokal dan menjadi ruang kolaboratif bagi masyarakat sebagai bentu perspektif yang dibangun. Faktor pendukung utama keberhasilan program ini meliputi pelaksanaan survei kebutuhan masyarakat, kerja sama dengan penerbit lokal, pengadaan bahan bacaan yang terstruktur, peningkatan fasilitas literasi, serta pelaksanaan kegiatan interaktif yang mendorong keterlibatan warga. Namun demikian, beberapa hambatan juga ditemukan, seperti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat membaca, terbatasnya koleksi buku dan anggaran, serta infrastruktur teknologi informasi yang belum memadai.

Kontribusi utama dari penelitian ini adalah lahirnya model strategi peningkatan minat baca yang dapat direplikasi di daerah lain, terutama di wilayah pedesaan. Hanifah Noviandari, M.Pd. berharap hasil penelitiannya dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun budaya baca berbasis keislaman yang berkelanjutan. “Membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi jembatan menuju peradaban. Semoga Rumah Literasi menjadi cahaya kecil yang menuntun masyarakat menuju perubahan besar,” ujarnya penuh optimisme.