Akselerasi Peningkatan Mutu, Akuntabilitas, dan Daya Saing Global PTKI melalui SBK
Yogyakarta – Unit Penelitian dan Pengabdian STAI Terpadu Yogyakarta sukses menyelenggarakan Workshop Pendampingan Penyusunan Proposal Hibah Penelitian Program RISE (Research Innovation & Scientific Enhancement) pada Kamis, 15 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB di Auditorium STAI Terpadu Yogyakarta ini merupakan implementasi dari SK FORKOM PTKIS DIY yang bertujuan meningkatkan kualitas penelitian di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta.

Workshop yang mengusung tema besar “Akselerasi Peningkatan Mutu, Akuntabilitas, dan Daya Saing Global Penelitian pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) melalui Implementasi Skema Standar Biaya Keluaran (SBK) Tahun Anggaran 2026” ini dihadiri oleh para dosen dan peneliti dari empat PTKIS di wilayah DIY, yaitu STAI Terpadu Yogyakarta, STIT Madani Yogyakarta, STAIMS Yogyakarta, dan STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta.
Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian STAI Terpadu Yogyakarta, Dr. Dr Kharis Syuhud Mujahada, M.Pd., menjelaskan pentingnya penyelenggaraan workshop ini dalam konteks peningkatan kualitas penelitian di PTKI. “Workshop ini merupakan respons kami terhadap tantangan baru dalam ekosistem penelitian perguruan tinggi, khususnya dengan diberlakukannya sistem Standar Biaya Keluaran. Kami ingin memastikan bahwa dosen dan peneliti di lingkungan PTKIS DIY memiliki pemahaman yang komprehensif tentang penyusunan proposal yang berkualitas dan sesuai dengan standar nasional,” ungkap Dr. Kharis dalam sambutannya.

Sesi I: Sistematika dan Strategi Penyusunan Proposal
Sesi pertama workshop dipandu oleh Prof. Dr. Suyadi, M.Pd.I., pakar penelitian pendidikan Islam yang juga merupakan peneliti aktif dengan track record publikasi internasional yang impresif. Dalam paparannya yang berjudul “Sistematika dan Strategi Penyusunan Proposal Hibah Penelitian PTKI 2026“, Prof. Suyadi memberikan panduan komprehensif tentang kerangka pikir penyusunan proposal penelitian yang berkualitas.

Menurut Prof. Suyadi, terdapat beberapa poin krusial yang harus diperhatikan peneliti dalam menyusun proposal. “Pertama, identifikasi gap penelitian yang jelas dan spesifik. Kedua, perumusan masalah yang tajam dan terukur. Ketiga, metodologi yang rigorous namun feasible. Keempat, luaran penelitian yang relevan dengan kebutuhan stakeholder, dan kelima, penyusunan anggaran yang akuntabel sesuai dengan prinsip SBK,” papar Prof. Suyadi.
Prof. Suyadi juga menekankan pentingnya state of the art dalam penelitian. “Penelitian di PTKI harus mampu berkontribusi pada pengembangan keilmuan, tidak hanya sekadar penelitian rutin. Untuk itu, diperlukan kajian literatur yang mendalam terhadap publikasi-publikasi terkini, baik nasional maupun internasional. Novelty dan significance menjadi dua kata kunci yang harus selalu ada dalam setiap proposal penelitian,” tambahnya.
Sesi II: Pendampingan Teknis dan Bedah Anatomi Proposal
Sesi kedua yang lebih aplikatif dipandu oleh Dr. Kharis Syuhud Mujahada, M.Pd., yang membawakan materi “Pendampingan Teknis Penyusunan Proposal Penelitian: Judul, Latar Belakang, Metodologi, Luaran, dan Anggaran Berbasis SBK”. Sesi ini menggunakan pendekatan bedah anatomi proposal (anatomy of scientific proposal) yang memungkinkan peserta untuk memahami secara detail setiap komponen proposal penelitian.

Dr. Kharis memberikan panduan praktis dimulai dari penyusunan judul penelitian yang efektif. “Judul penelitian harus spesifik, informatif, dan menarik. Hindari judul yang terlalu umum atau terlalu teknis. Judul yang baik adalah judul yang langsung menggambarkan substansi penelitian, metode yang digunakan, dan konteks penelitian,” jelas Dr. Kharis sambil memberikan contoh-contoh judul penelitian yang baik dan kurang baik.
Terkait dengan latar belakang penelitian, Dr. Kharis menekankan pentingnya argumentasi yang sistematis. “Latar belakang harus disusun dengan pola: fenomena atau kondisi faktual, gap atau permasalahan yang terjadi, urgensi untuk diteliti, dan posisi penelitian ini dalam konteks keilmuan yang lebih luas. Hindari latar belakang yang terlalu panjang dan bertele-tele namun tidak substansial,” imbuhnya.
Pada aspek metodologi, Dr. Kharis memberikan penekanan khusus pada kejelasan desain penelitian, teknik pengumpulan data, dan analisis data. “Metodologi bukan hanya sekadar menyebutkan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif. Peneliti harus mampu menjelaskan dengan rinci mengapa metode tersebut dipilih, bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, instrumen apa yang digunakan, dan bagaimana data akan dianalisis untuk menjawab rumusan masalah,” terang Dr. Kharis.

Penerapan Standar Biaya Keluaran dalam Penyusunan Anggaran
Salah satu poin penting yang dibahas secara mendalam adalah penyusunan anggaran berbasis Standar Biaya Keluaran (SBK). Dr. Kharis menjelaskan bahwa sistem SBK merupakan perubahan paradigma dalam pengelolaan anggaran penelitian dari input-based ke output-based.
“Dalam sistem SBK, anggaran disusun berdasarkan luaran yang akan dihasilkan, bukan hanya berdasarkan kegiatan atau item pengeluaran. Ini menuntut peneliti untuk lebih jelas dalam merumuskan luaran penelitian dan menghitung biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap luaran tersebut. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci utama,” jelas Dr. Kharis.
Ia juga memberikan contoh konkret tentang penyusunan anggaran untuk berbagai luaran seperti publikasi jurnal, buku, HKI, atau prototype. “Setiap luaran memiliki standar biaya yang berbeda. Misalnya, untuk publikasi jurnal internasional bereputasi, ada komponen biaya submission, proofreading, dan article processing charge yang harus diperhitungkan secara realistis,” tambahnya sambil menampilkan tabel perbandingan biaya berbagai jenis luaran penelitian.


Antusiasme Peserta dan Praktik Penyusunan Proposal
Workshop yang berlangsung seharian penuh ini mendapat sambutan antusias dari para peserta. Ibu Siti Aminah, S.Pd.I., M.Pd., dosen dari STIT Madani Yogyakarta, mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan ini. “Workshop ini sangat membantu kami yang masih belajar dalam menyusun proposal penelitian hibah. Penjelasan dari narasumber sangat aplikatif dan langsung bisa kami praktikkan. Saya merasa lebih percaya diri untuk mengajukan proposal penelitian tahun ini,” ungkap Ibu Aminah.
Senada dengan itu, Dr. Muhammad Ridwan, M.Si., peneliti dari STAIMS Yogyakarta, menyampaikan bahwa workshop ini memberikan perspektif baru tentang penyusunan proposal. “Selama ini saya menyusun proposal lebih kepada trial and error. Setelah mengikuti workshop ini, saya memahami ada sistematika dan strategi khusus yang perlu diterapkan. Terutama terkait SBK, ini benar-benar hal baru yang perlu kami kuasai,” kata Dr. Ridwan.
Dalam sesi praktik, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk menyusun outline proposal penelitian mereka masing-masing. Kedua narasumber berkeliling memberikan pendampingan langsung kepada setiap kelompok, memberikan masukan dan koreksi terhadap outline yang disusun.
Dr Umi Fauziah peserta dari STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta, mengaku sangat terbantu dengan sesi praktik ini. “Feedback langsung dari para narasumber sangat berharga. Mereka tidak hanya mengoreksi apa yang salah, tetapi juga memberikan alternatif solusi dan contoh-contoh konkret. Ini membuat saya paham di mana letak kelemahan outline proposal saya,” tutur Dr Umi Fauziah.
Komitmen STAI Terpadu dalam Pengembangan Riset
Syarif Hidayat, M.Pd.M.SI., Ketua STAI Terpadu Yogyakarta, dalam sambutannya menyampaikan komitmen institusi dalam mendorong peningkatan kualitas penelitian. “Penelitian merupakan salah satu pilar penting dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kami di STAI Terpadu Yogyakarta berkomitmen untuk terus mendorong dan memfasilitasi dosen-dosen kami dalam menghasilkan penelitian yang berkualitas. Workshop seperti ini adalah salah satu bentuk komitmen kami,” tegas Syarif Hidayat, M.Pd., M.S.I.




Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antar PTKIS dalam meningkatkan kualitas penelitian. “Kolaborasi seperti yang difasilitasi oleh FORKOM PTKIS DIY ini sangat strategis. Kita bisa saling belajar dan berbagi pengalaman. Penelitian yang berkualitas tidak hanya akan meningkatkan reputasi institusi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat,” lanjut Syarif Hidayat, M.Pd.M.SI
Syarif Hidayat, M.Pd.M.SI juga mengungkapkan bahwa STAI Terpadu Yogyakarta akan terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serupa untuk meningkatkan kompetensi penelitian dosen. “Ini baru langkah awal. Kami merencanakan serangkaian kegiatan lanjutan seperti workshop penulisan artikel jurnal, pelatihan analisis data, dan seminar-seminar ilmiah. Kami ingin membangun ekosistem riset yang kondusif di lingkungan STAI Terpadu dan PTKIS DIY pada umumnya,” pungkasnya.
Rekomendasi dan Rencana Tindak Lanjut
Di akhir kegiatan, Prof. Suyadi memberikan beberapa rekomendasi penting untuk para peserta. “Pertama, segera aplikasikan ilmu yang didapat hari ini dengan mulai menyusun proposal. Kedua, manfaatkan pendampingan lanjutan yang disediakan oleh unit penelitian masing-masing institusi. Ketiga, bangun jaringan kolaborasi dengan peneliti dari institusi lain untuk memperkuat riset. Keempat, terus update pengetahuan tentang perkembangan metodologi penelitian dan standar publikasi ilmiah,” saran Prof. Suyadi.
Dr. Kharis juga menambahkan pentingnya konsistensi dalam penelitian. “Penelitian bukan kegiatan sekali jalan. Bangun roadmap penelitian jangka panjang yang koheren. Penelitian yang baik adalah penelitian yang berkelanjutan dan membangun satu sama lain, sehingga menghasilkan body of knowledge yang utuh dalam satu bidang kajian,” pesan Dr. Kharis.






