Yogyakarta Minggu 12 April 2026 Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAI Terpadu Yogyakarta periode 2025–2026 sukses menyelenggarakan Webinar Internasional dengan tema “Upgrade Diri vs Peduli Negeri: Ke Mana Arah Mahasiswa Hari Ini?”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kritis bagi mahasiswa dalam menentukan arah peran mereka di tengah dinamika global dan tantangan kebangsaan.
Webinar ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu M. Agha Syahrastanindra selaku Presiden HPMI Yordania 2025/2026, serta Raden Ambara Arya Wibisana selaku Co-founder futuristplus. Acara dipandu oleh moderator Aisyah Sri Rahayu, dengan Siti Fadia N., mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STAI Terpadu Yogyakarta, sebagai pembawa acara.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dalam jumlah besar yang berasal dari berbagai kalangan mahasiswa, baik dari dalam maupun luar kampus. Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan, terutama pada sesi diskusi yang berlangsung aktif, interaktif, dan penuh pertukaran gagasan kritis. Banyaknya pertanyaan dan tanggapan dari peserta menunjukkan tingginya kepedulian mahasiswa terhadap isu yang diangkat dalam webinar ini.
Dalam sambutannya, Dr. Rubini, M.Pd.I mewakili bidang kemahasiswaan menyampaikan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara pengembangan diri dan kontribusi terhadap masyarakat. Webinar ini diharapkan mampu menjadi wadah inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa untuk terus berkembang sekaligus berperan aktif dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Beliau juga berpesan bahwa Mahasiswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan diri, menuntut ilmu, dan mencari berbagai pengalaman. Namun, kebebasan tersebut harus tetap dilandasi oleh akhlak yang baik, etika yang santun, serta nilai-nilai moral yang kuat, sehingga setiap langkah yang diambil tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga membawa kebaikan bagi lingkungan dan masyarakat.
Sementara itu, Ketua DEMA STAIT sekaligus Ketua Panitia, Ahmad Tsabit Nasih Ikbar, dalam sambutannya menyoroti peran strategis mahasiswa sebagai agent of change. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut untuk kritis, tetapi juga konsisten dalam menjaga idealisme, baik di dalam maupun di luar sistem. Ia juga mengangkat fenomena menurunnya kepedulian sosial di kalangan mahasiswa serta meningkatnya sikap individualisme yang perlu menjadi perhatian bersama. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sikap apatis bukanlah pilihan netral, melainkan bagian dari persoalan itu sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa pengembangan diri dan kepedulian terhadap negeri bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan harus berjalan beriringan.





Dalam sesi pemaparan, Raden Ambara Arya Wibisana menekankan pentingnya kekuatan “why” sebagai fondasi utama dalam organisasi. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh visi dan program, tetapi oleh kejelasan tujuan, kepemimpinan yang membangun karakter, serta kemampuan menyelaraskan perbedaan dalam tim. Dengan pendekatan tersebut, organisasi dapat bertransformasi secara efektif dan berkelanjutan.
Sementara itu, M. Agha Syahrastaninindra menyampaikan bahwa self development dan social awareness merupakan dua hal yang saling melengkapi. Ia menegaskan bahwa pengembangan diri akan lebih bermakna jika memberikan dampak bagi lingkungan, dan kepedulian sosial akan semakin kuat jika didukung oleh kualitas diri yang baik.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa untuk merefleksikan kembali peran dan tanggung jawabnya sebagai generasi intelektual. Tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi bangsa. Melalui webinar ini, DEMA STAIT menegaskan komitmennya dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan semangat kontribusi bagi negeri.






