Bedah Buku sebagai Implementasi Mata Kuliah Event Manajement, Kolaborasi Mahasiswa STAI Terpadu Yogyakarta dalam Rangkaian STAIT FEST 2024

Yogyakarta, 15 Desember 2024 – STAIT FEST 2024 ditujukan sebagai wadah bagi seluruh mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Terpadu Yogyakarta untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kreatifitas dalam membentuk suatu rancangan serangkaian acara yang diterapkan pada sebuah event akbar, disini mahasiswa juga dituntut untuk saling bersinergi dalam ilmu dan aksi secara kreatif, aktif dan inovatif.

Pada STAIT Fest 2024 ini, Bedah Buku menjadi menjadi event pembuka dalam serangkaian kegiatan pada tanggal 15-21 Desember 2024. Bedah Buku tidak hanya menjadi ajang untuk mengeksplorasi karya sastra, tetapi juga sebagai momen refleksi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya berbagi pengalaman hidup. Melalui tulisan, mahasiswa diajak untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang dapat menginspirasi dan memotivasi orang lain.

Bedah Buku menghadirkan kak Boing Tegar Bhayangkara sebagai narasumber dari salah satu karya tulisnya yang dibedah bersama kali ini berjudul “Tak Pernah Usai”. Acara ini dilaksanakan pada 15 Desember 2024 pukul 09.00 – 11.30 secara daring via zoom. Sekalipun event bedah buku diadakan secara online, event ini tak kalah menarik dari kegiatan event lainnya, acara ini dihadiri kurang lebihnya 35 peserta baik dari kalangan teman-teman mahasiswa STAI Terpadu ataupun teman-teman kalangan umum dari luar mahasiswa STAI Terpadu Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk memperluas jaringan dan membangun hubungan dengan berbagai kalangan. Selain itu, mahasiswa dapat belajar langsung dari pengalaman dan perjalanan hidup seorang penulis. Pertukaran ide dan pengalaman ini diharapkan dapat memicu kreativitas mahasiswa dalam berkarya dan berkontribusi di masyarakat.

Belajar Hidup Dengan Menulis

Pada pertemuan ini kak Boing Tegar menyampaikan bahwasannya dia mulai menulis untuk mengingat kembali cerita-cerita yang telah dilaluinya, dimulai dengan menulis pada buku diary hariannya sebagai catatan hidup sejak masa SMA di pesantren, kak Boing Tegar mencurahkan keresahan dalam fikirannya menjadi tulisan yang pada akhirnya dilahirkan menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati hasilnya oleh para pembaca karya-karyanya.

Buku karyanya yang kita bedah kali ini dengan judul “Tak Pernah Usai” merupakan salah satu karya yang terlahir dari sebuah memoar dan refleksi ingatan-ingatan masa lalunya tentang asmara masa muda dan pencarian diri yang belum usai, dimana karya-karya sebelumnya mulai terbentuk dari ingatan-ingatan bersama Ibu dan Bapaknya sebelum mereka berdua tiada, sebuah hantaman keras dimasa mudanya yang sempat membuatnya berlarut dalam kesedihan bahkan hampir menemui putus asa pada kehidupan. Namun seiring berjalannya waktu, kejadian yang paling mengguncang hidupnya itulah yang akhirnya menjadi bahan bakar untuk terus memacu kehidupan dan semakin berkembang hingga akhirnya menjadi seorang Boing Tegar Bhayangkara yang kita saksikan bersama saat ini.

Sebagaimana pengakuan pribadinya memulai untuk menulis, adalah dimana dia ingin mengenang ujian-ujian hidup yang telah dia lewati selama ini, dengan menuliskan kenangan-kenangan yang telah dilalui membantunya untuk lebih bersyukur, baik buruknya kenangan menjadikan dia lebih mawas diri dan berkhusnudzon pada rencana Allah Ta’ala. Cerita-cerita yang telah lalu itulah yang mebuat dirinya lebih kuat menghadapi ujian-ujian didepannya dalam hidup ini karena baginya “Allah selalu ada pada persimpangan terakhir masalah hidup”. Oleh karena itu ia mengenang cerita-cerita hidup dalam bentuk tulisan, bila suatu masa ujian sulit telah berhasil dilewati maka dia bisa membukanya kembali sebagai penguat hatinya bahwa “Allah pasti memberikan kemudahan untuk melewati berbagai ujian kedepannya”.

Menulis Untuk Merasakan Kehidupan Dua Kali.

Seorang penulis itu hidup dengan hidupnya, hidup dari karya-karyanya dan hidup dengan karya-karyanya. Mengutip kalimat Anais Nin kak Boing Tegar menyampaikan “Kita menulis untuk merasakan kehidupan dua kali, saat ini dan saat mengingat kembali” dia melanjutkan “Sekalipun tidak dalam bentuk nyata, tapi seakan kita hidup dan merasakan kembali masa-masa yang sebelumnya telah kita lewati”.

Karya-karya yang terlahir dari tangannya merupakan buah dari keresahan yang selama ini dia rasa, keresahan-keresahan yang tidak dipendam menjadi kesedihan berlarut, tapi keresahan yang ditabung dalam bentuk tulisan dimana hasil akhirnya adalah sebuah karya tulis mendalam dari hati penulis ke hati para pembaca karyanya. Kak Boing Tegar menyampaikan: “dengan kita menjadikan keresahan yang dialami kedalam bentuk karya, kita akan mendapat keuntungan dalam bentuk penghargaan atas buah karya kita”, sehingga kita bisa lebih memaknai kehidupan dan menghargai kehidupan lebih lagi dari yang sebelumnya.

Komitmen, Konsisten dan Persisten

Pada pertemuan ini juga, kak Boing Tegar membagikan sedikit cerita tentang pengalaman pengkaryaanya saat menulis hingga akhirnya karya-karya tulisnya diterbitkan dalam bentuk buku cetak sekaligus memberikan tips pada para peserta yang hadir untuk menulis. Mulai dari lamanya waktu penulisan, penerbitan dari penerbit-penerbit mayor hingga regulasi yang berlaku cukup sulit dan ribet, menurutnya penerbit Indie dinilai lebih ekonomis dan mudah dari segi waktu dan regulasinya, Itulah mengapa dia lebih memilih penerbit Indie sebagai opsi saat ini ketimbang penerbit mayor.

Materi pada pertemuan ini diakhiri dengan ajakan kak Boing Tegar pada para peserta untuk terus menulis, karena dengan menulis kita bisa menjadi abadi dalam karya-karya kita tambahnya, ia juga memberikan semangat bahwasannya menulis adalah hak semua orang bukan milik mereka yang punya popularitas tinggi, karya yang banyak ataupun good looking. Dengan komitmen saat menulis, konsisten dengan keteguhan yang tinggi dan persisten atau terus menerus untuk selalu menulis hingga pada akhirnya melahirkan sebuah karya yang diterbitkan ke khalayak pembaca.

Menjelang akhir acara, MC bedah buku mempersilahkan para peserta untuk beristirahat terlebih dahulu dan memberikan sedikit ice breaking sebagai stimulus bagi peserta setelah beberapa jam durasi bedah buku. Pertemuan dilanjutkan dengan tanya jawab antara peserta dan pemateri kemudian dilanjut dengan pengumuman para pemenang doorprize.

Melalui acara ini dapat mendukung pengembangan karakter mahasiswa, terutama dalam hal ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi. Dengan mendengarkan kisah perjalanan penulis yang penuh liku-liku, mahasiswa diharapkan dapat menemukan inspirasi untuk menghadapi tantangan dalam hidup mereka sendiri. Melalui proses ini, mereka belajar bahwa setiap kesulitan bisa menjadi sumber kekuatan dan motivasi untuk terus maju.

Akhirnya, kegiatan bedah buku ini juga menegaskan pentingnya literasi di kalangan generasi muda. Di era digital saat ini, kemampuan menulis dan berpikir kritis menjadi sangat penting untuk membentuk individu yang mampu berkontribusi secara positif dalam masyarakat. Dengan mengedukasi dan menginspirasi mahasiswa melalui kegiatan seperti ini, STAIT FEST berupaya menciptakan iklim akademis yang mendukung pengembangan diri dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Perjalanan Yang Tak Pernah Usai

Bedah buku “Tak Pernah Usai” karya kak Boing Tegar Bhayangkara ditutup dengan closing statement dari pemateri. Ia menyampaikan bahwa kita tak pernah tahu kejadian rencana Allah kedepannya, untuk itu kita harus selalu berkhusnudzon pada Allah Ta’ala atas segala yang kita perjuangkan dan selalu melibatkan-Nya pada setiap kejadian yang kita alami karena Allah adalah sebaik-baik perencana dalam perjalanan hidup kita bersama. Dan yang terakhir bahwasannya “Kehidupan Ini Tak Pernah Usai”.