STAI Terpadu Yogyakarta Gelar FGD Perumusan Paradigma Keilmuan Berbasis Tauhid

STAI Terpadu Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Perumusan Paradigma Keilmuan Berbasis Tauhid dan Pengembangan Keilmuan Integratif di STAI Terpadu Yogyakarta” pada Jumat, 08 Mei 2026 di Ruang Senat kampus.

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan pengelola kampus: Bapak Syarif Hidayat, M.Pd., M.S.I, Selaku Ketua, Bapak Dr. Rz. Ricky Satria Wiranata, M.Pd., Selaku Wakil Ketua I, Bapak Denas Hasman Nugraha, M.Ek, Selaku Wakil Ketua II. Bapak Dr. Danang Dwiprasetyo, M.Pd., Selaku Ketua Senat, Serta Ibu Dr. Rubini,M.Pd.I., Selaku Ketua Unit Penjaminan Mutu (UPM), serta menghadirkan narasumber Dr. Nasiwan, M.S.I.. FGD dilaksanakan sebagai langkah awal dalam merumuskan arah pengembangan paradigma keilmuan yang selaras dengan visi STAI Terpadu Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan dan dakwah.

Dalam sambutan pembukaan disampaikan oleh Bapak Ketua bahwa perguruan tinggi Islam tidak hanya bertanggung jawab pada proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki amanah dakwah untuk membina peserta didik agar berkembang dalam aspek pemikiran, sikap, dan perilaku berdasarkan nilai-nilai Islam. Oleh sebab itu, diperlukan fondasi paradigma keilmuan yang kuat sebagai dasar pengembangan kurikulum, program studi, dan budaya akademik kampus.

Pada sesi pemaparan materi, narasumber menjelaskan pentingnya pengembangan paradigma keilmuan profetik sebagai pendekatan integratif dalam pendidikan tinggi Islam. Paradigma tersebut mencakup tiga unsur utama, yaitu transendensi (ketuhanan), humanisasi (kemanusiaan), dan liberasi atau emansipasi (pembebasan dari ketidakadilan). Pendekatan ini dinilai mampu menjembatani perkembangan ilmu modern dengan nilai-nilai Islam secara lebih komprehensif.

Diskusi juga menyoroti pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan modern dengan khazanah keilmuan Islam klasik. Menurut narasumber, banyak teori modern dibangun berdasarkan realitas sosial masyarakat Barat sehingga perguruan tinggi Islam perlu melakukan kajian kritis agar mampu menghasilkan konsep dan teori yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Muslim Indonesia.

Dalam forum tersebut dibahas pula tahapan pengembangan keilmuan integratif, mulai dari merumuskan persoalan mendasar masyarakat, menentukan teori dan ilmu yang relevan, mengintegrasikan perspektif Islam dengan ilmu modern, hingga menghasilkan solusi aplikatif dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan dakwah.

FGD ini juga menjadi ruang diskusi mengenai pengembangan berbagai program pendidikan dan penguatan jaringan dakwah yang dimiliki STAI Terpadu Yogyakarta, termasuk pengembangan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), pendidikan jenjang Usia Dini, TK, SD–SMA, serta Ekonomi Syariah.

Peserta FGD menyambut positif gagasan pengembangan paradigma keilmuan berbasis tauhid dan menilai bahwa STAI Terpadu Yogyakarta memiliki potensi besar untuk menjadi model pendidikan integratif berbasis nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, diperlukan tindak lanjut konkret berupa penyusunan roadmap keilmuan, pengembangan kurikulum integratif, penyusunan silabus dan textbook, serta penguatan kapasitas dosen dan budaya akademik kampus. FGD ini akan dilaksanakan dalam 3 sesi, dan outcomenya adalah buku putih yang akan dijadikan sebagai pijakan metodologi pengembangan keilmuan di STAI Terpadu Yogyakarta.

Kegiatan ditutup pada pukul 10.00 WIB dengan harapan hasil FGD dapat menjadi dasar penguatan identitas akademik STAI Terpadu Yogyakarta sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul dalam pendidikan, dakwah, dan pengembangan keilmuan integratif berbasis tauhid.