Dosen STAI Terpadu Yogyakarta Hadiri Sarasehan Pendidikan Khas Kejogjaan Seri II Tahun 2026

Dosen STAI Terpadu Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan Sarasehan Pendidikan Khas Kejogjaan Seri II Tahun 2026 yang diselenggarakan pada Rabu, 4 November 2026, bertempat di Gedung Siti Walidah, Ruang Siti Baroroh Baried, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut mengangkat tema “Pendidikan Khas Kejogjaan dalam Perspektif Pendidikan KH Ahmad Dahlan dan Gerakan Pendidikan Perempuan ‘Aisyiyah.”

STAI Terpadu Yogyakarta diwakili oleh Diningrum Citraningsih, M.S.I., selaku Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, dan Putri Isma Indriyani, M.Sos., selaku Ketua Program Studi Manajemen Dakwah. Kehadiran kedua perwakilan tersebut merupakan bentuk partisipasi aktif STAI Terpadu Yogyakarta dalam mengikuti perkembangan pemikiran dan praktik pendidikan, khususnya yang berakar pada nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta serta tradisi pendidikan Islam.

Sambutan Rektor Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang diwakili oleh Wakil Rektor II, Dr. Yuli Isnaeni, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom., turut mengawali kegiatan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya memperkuat pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, nilai-nilai keislaman, dan kearifan lokal. Pendidikan Khas Kejogjaan menjadi salah satu ikhtiar untuk mengintegrasikan nilai budaya Yogyakarta dalam proses pendidikan sehingga ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D. Beliau menekankan pentingnya Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai upaya memperkuat karakter dan keunikan perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Nilai-nilai lokal diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan konseptual, tetapi terintegrasi dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pesan Pendidikan Khas Kejogjaan yang digagas dan disampaikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X menjadi benang merah dalam kegiatan ini. Pendidikan dipandang bukan semata-mata sebagai proses transfer ilmu, melainkan juga proses pembudayaan yang membentuk manusia berkarakter luhur atau jalma kang utama. Melalui falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, pendidikan diharapkan mampu menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, serta memastikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berpihak pada keadilan, keselamatan, dan kesejahteraan bersama.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai perwakilan dosen dari kampus-kampus yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Yogyakarta, Institut Teknologi Yogyakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi SBI, Sekolah Tinggi Agama Islam Terpadu Yogyakarta dan kampus yang lainnya. Dalam kegiatannya menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidang pendidikan, sejarah, dan gerakan sosial. Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. dengan topik “Pendidikan Khas Kejogjaan: Filosofi dan Konsep Dasar”. Materi ini membahas landasan filosofis serta konsep dasar pendidikan khas Kejogjaan sebagai identitas dan karakter pendidikan yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya Yogyakarta.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Farid Setiawan, S.Pd., M.Pd.I. dengan tema “Muhammadiyah sebagai Salah Satu Sumber Pendidikan Khas Kejogjaan: Integrasi Ilmu, Nilai Keagamaan, dan Aksi Sosial dalam Pendidikan KH Ahmad Dahlan”. Pembahasan ini menyoroti pemikiran pendidikan KH Ahmad Dahlan yang menekankan keterpaduan antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai keagamaan, dan kepedulian sosial sebagai fondasi dalam membangun pendidikan yang berkemajuan.

Selanjutnya, Prof. Dr. Mutiah Amini, M.Hum. menyampaikan materi bertajuk “Jejak Nyai Ahmad Dahlan, Siti Bariyah, dan Siti Munjiyah: Pendidikan Perempuan, Kepemimpinan, dan Transformasi Sosial”. Materi ini mengangkat kontribusi tokoh-tokoh perempuan ‘Aisyiyah dalam memperjuangkan akses pendidikan, membangun kepemimpinan perempuan, serta mendorong transformasi sosial melalui gerakan pendidikan.

Keikutsertaan perwakilan STAI Terpadu Yogyakarta dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan akademik, memperkuat perspektif tentang integrasi nilai keislaman dan kearifan lokal dalam pendidikan, serta menjadi referensi dalam pengembangan keilmuan dan praktik Manajemen Pendidikan Islam maupun Manajemen Dakwah.

Melalui partisipasi dalam Sarasehan Pendidikan Khas Kejogjaan Seri II Tahun 2026, STAI Terpadu Yogyakarta terus mendorong penguatan jejaring akademik dan peningkatan kualitas sumber daya manusia perguruan tinggi. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kontribusi pemikiran pendidikan Islam dan gerakan perempuan dalam membangun peradaban serta mewujudkan pendidikan yang berkarakter, inklusif, dan berkemajuan.